Tampilkan postingan dengan label DSDP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DSDP. Tampilkan semua postingan

18 Apr 2011

DSDP KUTA DAN HOLIDAYS IN HELL


Oleh : Nyoman Upadhana
(Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian Bali Post, Senin 11 April 2011)

Beberapa hari yang lalu ada berita yang tiba-tiba muncul bagaikan sebuah bom, walaupun ledakannya tidak seperti Bom Bali I. Dan yang mengejutkan, berita tersebut ditulis oleh seorang wartawan dari sebuah media internasional (majalah TIME). Andrew Marshall, sang wartawan, menulis banyak tentang kondisi pariwisata Bali saat ini. Yang ditonjolkan lebih banyak sisi negatifnya. Judulnya pun menyeramkan “Holidays in Hell : Bali’s Ongoing Woes”


Dalam tulisannya, Andrew membahas sejumlah masalah yang melilit Pulau Bali. Pulau yang menurut dia masih menjadi tujuan wisata internasional, bahkan dianggap negara lain di Indonesia. Namun, Andrew menilai, infrastruktur pulau kurang cepat mengantisipasi perubahan pariwisata Bali. Andrew membuka tulisannya dengan kotornya pantai Kuta, salah satu lokasi wisata paling ramai di Bali.
 
Musim hujan yang cukup deras di Bali membuat sungai meluap. Alhasil sampah-sampah yang ada di sungai terbawa ke laut. Termasuk kotoran manusia. Sampah-sampah itu lantas berakhir di Pantai Kuta. Ini membuat awal Maret lalu otoritas Pantai Kuta melarang turis berenang di pantai tersebut lebih dari 30 menit. Khawatir terkena infeksi kulit. Selain masalah polusi di pantai, lanjut Marshall, Bali juga mengalami problem kekurangan air, listrik mati hidup, sampah yang berserakan, drainase, hingga kemacetan serta kriminalitas.

Beberapa hal yang ditulis oleh Andrew memang ada benarnya. Sampah yang berserakan di pantai kuta, yang dibawa oleh arus laut, tidak begitu cepat diatasi oleh pemerintah atau pengelola pantai dan dibiarkan menjadi onggokan sampah selama beberapa hari. Kondisi ini sudah terjadi berulang-ulang, sudah tentu tidak enak dipandang mata.

Perihal drainase di wilayah Kuta juga memang sangat memprihatinkan. Walaupun tahun 2004 sudah digelontorkan miliaran rupiah untuk perbaikan drainase, namun tetap saja bermasalah sampai saat ini. Hal ini disebabkan karena perbaikan drainase tidak berkelanjutan. Setelah proyek drainase tahun 2004 yang dianggap bermasalah oleh sebagian masyarakat, tidak ada lagi kelanjutan perbaikan drainase. Padahal untuk jalan Legian, drainase sisi timur sampai saat ini belum pernah tersentuh untuk diperbaiki.

Justru yang ditangani oleh pemerintah daerah hanya yang nampak dipermukaan saja, seperti perbaikan trotoar dengan batu granit dan pembuatan tembok penyengker sepanjang pantai kuta. Padahal yang memprihatinkan justru hal-hal yang tidak kelihatan, seperti kondisi air tanah yang mungkin sudah tercemar dan drainase yang penuh limbah padat dan limbah cair.

Masih banyak restoran dan hotel di Kuta yang membuang limbah ke drainase, dan banyak juga masyarakat mengalirkan limbah rumah tangganya ke saluran drainase. Padahal fungsi drainase sebenarnya hanya untuk mengalirkan air hujan. Tapi kenyataannya, banyak pipa pembuangan yang masuk ke drainase. Hal ini sudah berlangsung sejak lama, pemerintah kelihatannya tidak bisa mengatasi karena memang fasilitas untuk pengaliran air limbah belum siap. Alhasil, limbah cair pun tetap mengalir ke drainase kemudian masuk ke sungai dan akhirnya sampai ke laut.

Sejak tahun 2004 sebenarnya sudah ada rencana untuk pengerjaan proyek air limbah di daerah Kuta. Nama proyeknya DSDP (Denpasar Sewerage Development Project), satu paket dengan proyek serupa di wilayah Sanur. Tetapi karena masyarakat Kuta menolak dengan alasan trauma tehadap proyek drainase sebelumnya, akhirnya proyek dipindah ke wilayah Seminyak atas permintaan masyarakat seminyak sendiri. Dengan pendekatan yang baik, akhirnya masyarakat Legian juga menerima proyek tersebut. Sejak tahun 2008, wilayah Seminyak dan Legian sudah dapat menikmati layanan pengelolaan air limbah, sedangkan wilayah Kuta belum terlayani. Dengan sudah berfungsinya jaringan pipa air limbah di wilayah Seminyak dan Legian, seharusnya tidak ada lagi masyarakat, hotel maupun restoran yang membuang limbah cairnya ke saluran drainase.
 
Pentingnya pengelolaan air limbah untuk kesehatan lingkungan, apalagi Kuta merupakan daerah tujuan wisata paling ramai, akhirnya membuat masyarakat Kuta memohon agar proyek tersebut dilaksanakan juga di wilayahnya. Akhirnya pada awal 2010, pelaksanaan konstruksi untuk proyek Denpasar Sewerage Development Project (DSDP Tahap II) mulai dilaksanakan. Pemasangan jaringan pipa induknya sebagian besar dilaksanakan dengan metode jacking. Hal ini disebabkan karena jalan di wilayah kuta tidak begitu lebar dan kondisi tanahnya yang berpasir menyulitkan pemasangan pipa dengan sistim open trench (galian terbuka).

Proyek DSDP Tahap II di Kuta dikerjakan oleh kontraktor TOA-TOKURA-PP JO, joint operation antara kontraktor Jepang (TOA-TOKURA) dan BUMN (PT.PP). Kontrak dimulai sejak akhir 2009 dan diharapkan selesai awal 2012. Selama pelaksanaan yang sudah berjalan setahun lebih, hampir tidak ada komplin dari masyarakat asli Kuta. Ini disebabkan karena kontraktor cepat tanggap dalam menyelesaikan permasalahan, sekecil apapun permasalahannya. Kontraktor sangat profesional dan mengutamakan safety dan kualitas dalam bekerja, didukung dengan peralatan dan personil yang lengkap.

Komplin selama ini lebih banyak datang dari sopir taksi, yang merasa terganggu dengan adanya proyek. Padahal sebenarnya tidak ada proyekpun, Kuta memang macet. Sepertinya untuk wilayah sekecil Kuta, jumlah taksi sudah sangat banyak, yang otomatis sebenarnya sebagai penyumbang kemacetan. Coba saja perhatikan, sopir taksi seenaknya berhenti mengambil atau menurunkan penumpang, seakan tidak peduli dengan kendaraan lain dibelakangnya. Sopir taksi tidak (mau) tahu, bahwa sebenarnya tujuan proyek DSDP adalah untuk menyehatkan lingkungan sehingga wisatawan bisa dengan nyaman berwisata di Kuta Diharapkan wisatawan semakin bertambah dengan adanya lingkungan yang bersih, yang pada akhirnya dapat menyambung hidup mereka juga (sopir taksi).

Sebaliknya, wisatawan asing justru mengacungkan jempol ketika melihat pekerja sibuk siang malam memasang pipa jaringan air limbah. Mereka memang sudah lebih dahulu memahami pentingnya pengelolaan air limbah yang baik. Banyak wisatawan asing yang senang pemerintah sudah mulai menangani air limbah, mereka berharap beberapa tahun ke depan wilayah Kuta semakin bersih.

Proyek DSDP hanya merupakan satu penanganan masalah dari banyak masalah yang dikeluhkan oleh wartawan TIME. Masalah yang diatasi oleh DSDP hanya masalah limbah cair. Dengan berfungsinya jaringan air limbah di wilayah Kuta, nantinya diharapkan masyarakat, pihak hotel dan restoran tidak lagi membuang limbah ke saluran drainase. Dengan demikian kualitas air tanah menjadi meningkat dan kondisi air laut di pantai Kuta menjadi bersih.

Permasalahan yang lain, seperti sampah padat, kemacetan, kriminalitas, listrik, air, dan fasilitas publik tetap harus dicarikan solusi oleh pemerintah daerah dengan tindakan cepat dan nyata sehingga Kuta dan sekitarnya tetap menjadi tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun internasional.

25 Jan 2010

Denpasar Sewerage Development Project (DSDP)

POTENSI SETTLEMENT PASCA KONSTRUKSI DSDP


Proyek DSDP (Denpasar Sewerage Development Project) tahap I sudah selesai dikerjakan setahun yang lalu. Dari pantauan kami di lapangan pada jalur-jalur yang dilalui proyek DSDP, terdapat beberapa jalan mengalami penurunan (settlement) sehingga permukaan jalan kelihatan bergelombang. Penurunan setempat-setempat juga masih ada, terutama pada bekas galian pipa lateral (hubungan dari pipa induk ke sambungan rumah). Penurunan setempat terjadi karena pengurugan yang tidak baik, misalnya material yang dipakai tidak memenuhi syarat atau pemadatannya yang tidak maksimal. Pemadatan yang dilakukan sering hanya dipermukaan saja (kebiasaan yang salah tapi sering dilakukan, tanya kenapa?)


Settlement yang berkelanjutan justru kami khawatirkan terjadi pada jalan dimana pipa-pipa sewerage tertanam cukup dalam (earth covering lebih dari 3 m). Kondisi settlement akan cepat jika kondisi tanah berpasir dan muka air tanah cukup tinggi. Jika posisi pipa sewerage berada 5 meter di bawah jalan dan mat 1 m dibawah permukaan jalan maka tekanan air di sekitar pipa menjadi 4 t/m2. Tekanan yang cukup besar untuk membawa masuk butiran-butiran pasir/tanah ke dalam pipa melalui titik-titik yang rawan bocor (titik A dan B). Semakin lama maka semakin banyak pasir yang terbawa masuk ke dalam pipa sehingga volume tanah di atas pipa menjadi berkurang. Keadaan ini adalah salah satu penyebab settlement pada permukaan jalan. Penyebab yang lain adalah penggunaan material urugan yang tidak benar sehingga pemadatan menjadi tidak maksimal.

Untuk menghindari potensi settlement tersebut maka material urugan harus memenuhi syarat dan dipadatkan lapis per lapis. Kebocoran pada saluran sewerage dihindari (walau katanya ada toleransi dimana kebocoran dibolehkan), terutama pada pipa-pipa yang tertanam lebih dari 3 meter. Kebocoran sekecil apapun, jika tekanan air tanah besar maka lama kelamaan lubang bocor akan bertambah besar. Di daerah tanah berpasir, seperti daerah Kuta, pemasangan pipa-pipa sewerage harus betul-betul terjamin tidak bocor agar tidak terjadi potensi settlement pada badan jalan. Disamping dapat mengganggu pengguna jalan, perbaikan settlement juga memerlukan biaya yang cukup tinggi.

21 Jan 2010

Denpasar Sewerage Development Project


TUTUP MANHOLE DSDP II DIMINTA DI KUNCI

Berita salah satu media lokal di Bali tanggal 19 Januari 2009 memuat saran anggota dewan kota agar tutup-tutup manhole saluran limbah cair / DSDP (Denpasar Sewerage Development Project)diamankan dengan cara digembok atau dilas sehingga aman dari tangan-tangan jahil.

Penulis bingung membaca berita tersebut, yang salah wartawan yang mengutip pembicaraan atau memang benar anggota dewan yang meminta agar dikunci.
Rasanya tidak mungkin ada orang-orang jahil yang bisa mencuri tutup manhole DSDP. Tutup manhole DSDP dibuat dari konstruksi beton bertulang sehingga cukup berat (kurang lebih beratnya 100 kg). Orang yang belum pernah membukanya akan kesulitan mengangkat tutup manhole sendirian karena berat dan perlu alat khusus (catok). Jadi mustahil ada orang jahil mau membukanya, disamping karena posisi manhole kebanyakan di jalan raya yang ramai juga pasti bau he..he.. Justru kalau diisi kunci, kami yakin yang hilang pasti gemboknya dan bukan tutupnya. Tidak sama seperti tutup manhole drainase kuta yang banyak hilang walaupun sudah diisi pengaman. Tutup manhole drainase kuta terbuat dari besi cor bermotif sehingga wajar hilang karena harganya lumayan….

Yang perlu diperhatikan pada tutup manhole DSDP adalah konstruksinya. Dari pantauan kami di lapangan sudah banyak tutup manhole yang pecah-pecah (cuil) pada bagian pinggirnya. Jika dibiarkan maka cuilnya akan semakin besar karena lintasan roda kendaraan yang padat. Kami sarankan agar konstruksi tutup manhole berikutnya dibuat dengan memberi plat baja melingkar pada bagian tepinya untuk menghindari cuil-cuil tersebut.
Pemasangan kembali tutup manhole dengan cara yang tidak benar dapat menyebabkan tutup manhole goyang sehingga berbunyi jika dilintasi kendaraan. Lama kelamaan kondisi ini dapat menyebabkan retaknya tutup manhole karena benturan antar tutup dan rumahnya akibat beban kejut/hentakan roda kendaraan. Membuka dan memasang tutup manhole harus hati-hati dan menggunakan catok yang khusus dibuat untuk itu agar tutup manhole terhindar dari benturan-benturan.

Mengenai amblesnya permukaan jalan disekitar manhole lebih banyak disebabkan karena tidak baiknya pelaksanaan. Ukuran galian untuk manhole biasanya dibuat pas-pasan sehingga tidak ada ruang yang cukup untuk memadatkan dengan alat pemadat (stamper). Akibatnya yang dipadatkan hanya bagian atasnya saja, padahal syarat pemadatan yang benar adalah lapis per lapis (tiap 30 cm). Kesulitan pemadatan ini sebenarnya dapat diatasi dengan menggunakan material berpasir untuk urugan kembali disekeliling manhole. Material urugan dari pasir bisa dipadatkan dengan air. Karena mahal, biasanya pemborong tidak memakainya. Disinilah peran supervisi untuk memaksa menggunakan material pasir, apabila tidak maka pemborong harus membuat ukuran galian sedemikian rupa sehingga stamper bisa memadatkan lapis per lapis dari bawah.

5 Okt 2009

Denpasar Sewerage Development Project



DSDP, bersih itu mahal.....

Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) adalah proyek pembangunan jaringan limbah cair untuk kota Denpasar. Studi kelayakan proyek ini mulai dibuat sejak tahun 1993, Detail Engineering Design mulai dibuat tahun 1997 dan masa konstruksi (Phase I) mulai tahun 2003 dan rampung tahun 2008. Wilayah yang sudah dikerjakan adalah Kota Denpasar, Sanur dan Kuta (Seminyak dan Legian). Sedangkan untuk wilayah kelurahan Kuta belum dilaksanakan karena pada ssat itu ada penolakan dari sebagian masyarakat.

Sistem yang dipakai DSDP adalah system gravitasi. Untuk wilayah dalam kota Denpasar, full system gravitasi. Sedangkan untuk Sanur dan Kuta, karena kontur yang tidak memungkinkan dibuatkan rumah pompa (Pumping Station) masing-masing di Jalan Danau Tempe untuk wilayah Sanur dan di Br. Abianbase untuk wilayah Kuta. Pumping Station dibuat untuk menaikkan elevasi pipa karena pada titik-titik tersebut galian pipa sudah mencapai kedalaman 7 meter. Di wilayah Sanur, lagi-lagi karena kontur tanah, dibeberapa tempat dibuatkan Wet Pit Pumping Station untuk menaikkan elevasi pipa, seperti di wilayah Bumi Ayu. Untuk lokasi dimana pipa harus melintasi sungai, dipakai metode siphon apabila elevasi dasar sungai lebih rendah daripada elevasi dasar pipa.

Biaya yang sudah dihabiskan untuk membangun jaringan DSDP Phase I sudah ratusan miliar. Konsultan yang mendesain dan melakukan supervisi sudah pasti dari negara yang memberi kita pinjaman (baca: hutang), yaitu Pacific Consultan International (PCI) konsorsium dengan konsultan lokal Indonesia. Kontraktor yang mengerjakan fisiknya juga konsorsium perusahaan BUMN dan perusahaan Jepang khusus untuk nilai kontrak di atas 100 miliar (International Competitive Bidding), sedangkan untuk nilai kontrak dibawah 100 miliar sebagian besar dikerjakan oleh BUMN.

Biaya konstruksi yang mahal dan biaya operasional serta maintenance yang mahal adalah wajar untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat. Kalau upaya penyehatan lingkungan tidak dimulai dari sekarang, biaya konstruksi akan semakin membengkak akibat semakin padatnya wilayah. Kerugian akan jauh lebih besar apabila lingkungan kita tidak sehat, pariwisata yang kita andalkan akan lesu darah akibat tamu-tamu sudah pasti akan menjauhi wilayah yang tidak sehat. Pemerintah tidak boleh mundur, harus jalan terus untuk melanjutkan pembangunan jaringan air limbah phase kedua. Biarkan orang mencibir “DSDP berbiaya mahal tapi tidak maksimal”. Hasil dari kerja keras pemerintah akan kelihatan beberapa tahun kemudian. Pihak legislatif juga harus mendukung penuh, dengan cara membuat anggaran yang cukup agar operational dan maintenance DSDP berjalan dengan baik. Pemerintah harus mensubsidi biaya operational dan maintenance tersebut, karena tidak mungkin badan yang mengelola DSDP hidup dari pungutan konsumen. Lebih baik biaya kunjungan pejabat dan dewan keluar negeri dihilangkan untuk selanjutnya dipakai mensubsidi biaya operasional dan maintenance DSDP. Itu jauh lebih bermanfaat.