Tampilkan postingan dengan label Bangunan Tahan Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan Tahan Gempa. Tampilkan semua postingan

1 Apr 2011

Standar Kobe Perkokoh Sendai

Sendai menjadi contoh kota yang relatif kokoh terkena guncangan gempa besar dan tsunami. Meski terdekat dengan pusat gempa berskala 9 skala Richter, tak ada satu pun gedung bertingkat di kota ini yang rusak parah apalagi runtuh. Kuncinya adalah penerapan peta Bahaya dan Standar Kekuatan Bangunan.


Kekokohan kota Sendai— ibu kota Prefektur Miyagi—yang berjarak 130 kilometer sebelah barat episentrum, teruji ketika menanggung guncangan dahsyat, Jumat (11/3). Gempa Miyagi merupakan yang terbesar sejak Jepang mulai merekam fenomena geologi sejak 140 tahun lalu. Gempa diikuti tsunami setinggi 10 meter, yang menerjang hingga 8 km dari garis pantai.

Kekuatan gedung di Sendai, kota yang memiliki kepadatan 1.300 orang per km persegi, memang menonjol. Tak ada gedung bertingkat yang dilaporkan roboh. Padahal, tiga gedung di Kurihara, kota lain di Prefektur Miyagi, runtuh. Banyak pula gedung bernasib sama di Fukushima dan di Chiba, ibu kota Narita.
 

Goyangan tanah yang menerjang Pulau Honshu itu muncul sebagai efek dari desakan Lempeng Pasifik terhadap Lempeng Eurasia yang menjadi tempat tumpuan pulau itu dan kota Sendai, yang dikenal dengan nama kota hutan (mori no miyako) karena banyaknya pepohonan. Kota ini luasnya 788.09 km persegi, membentang dari pesisir yang menghadap Samudra Pasifik hingga ke Pegunungan Ou.
 

Kunci kekuatan gedung di kota berpenduduk lebih dari 1 juta orang itu, salah satunya, berkat penerapan standar ketahanan gedung terhadap gempa.
 

Semula Sendai tergolong kota yang rapuh. Kota ini pernah hancur diguncang gempa berkekuatan 7,4 SR pada 12 Juni 1978. Gempa itu menyebabkan runtuhnya sekitar 4.400 bangunan dan 86.000 bangunan lain mengalami kerusakan parsial. Meski begitu, korban yang meninggal dan terluka relatif kecil, yaitu 1.016 orang.
 

Standar Kobe
Penguatan bangunan, terutama gedung bertingkat, di Sendai menggunakan standar kekuatan gedung terbitan tahun 1996, yaitu peraturan untuk seluruh Jepang yang diberlakukan setahun setelah gempa yang memorakporandakan kota Kobe.
 

Gempa tektonik Hanshin- Awaji pada 17 Januari 1995 itu berepisentrum di utara Pulau Awaji di bagian selatan Prefektur Hyogo. Gempa disebabkan tiga lempeng benua, yaitu Filipina, Pasifik, dan Eurasia. Gempa menimbulkan kerusakan pada Kobe yang berjarak sekitar 20 km dari pusat gempa.
 

Gempa menelan korban 6.433 orang, sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Gempa ini merupakan gempa terburuk di Jepang setelah gempa besar Kanto pada 1 September 1923 yang menewaskan lebih dari 140.000 orang di Tokyo, kota kedua terpadat di dunia.
 

Pada gempa Kobe, 250.000 bangunan rumah rusak dan sekitar 460.000 keluarga kehilangan tempat tinggal. Bencana itu memukul ekonomi Jepang. Total kerugian akibat gempa Kobe 10 triliun yen atau 2,5 persen dari PDB Jepang saat itu.
 

Standar baru yang diberlakukan secara nasional lebih kuat dua kali lipat dibandingkan standar sebelum gempa Kobe. Penetapan standar mengacu pada evaluasi gedung-gedung yang hancur akibat gempa berepisentrum dangkal itu.
 

Pembangunan Sendai mengacu pada kota Riverside di California, Amerika Serikat, sebagai sister city. Kedua kota itu memiliki kesamaan ancaman gempa tektonik bersumber dari Lempeng Samudra Pasifik.
 

Standar bangunan
Standar bangunan untuk penguatan struktur bangunan bertingkat dua ke atas disusun dengan mengacu pada Peta Bahaya (hazard) percepatan pergerakan tanah di batuan dasar akibat energi gempa.
 

Tiap lokasi memiliki percepatan pergerakan tanah, tergantung struktur lapisan batuan, keberadaan patahan dan sesar mikro di daerah itu, serta jarak dan posisinya terhadap zona subduksi, kata Mulyo Harris Pradono, pakar bangunan tahan gempa, yang juga Kepala Teknik Program Teknologi Pengurangan Risiko Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
 

Semua gedung bertingkat yang berada di daerah rawan gempa harus memiliki tiang pancang yang bertumpu hingga ke batuan dasar, agar kokoh bila terguncang gempa.
 

Perancangan kekuatan struktur gedung harus melihat sumber gempa dan masa gedung. Sisi bangunan yang berhadapan langsung dengan sumber gempa harus lebih kuat dibandingkan dengan sisi lain.
 

Pengamanan gedung dapat dilakukan dengan memasang isolator berupa bahan karet di bagian dasar gedung dan sistem peredam kejut, kata Mulyo, yang menamatkan doktor dari Kyoto University di bidang struktur tahan gempa.
 

Sumber : Kompas, 23 Maret 2011

20 Okt 2009



ADAKAH BANGUNAN TAHAN GEMPA?

Runtuhnya banyak bangunan di Sumatera Barat saat terjadi gempa 7.6 SR pada tanggal 30 September 2009, mengingatkan kembali kepada kita semua tentang pentingnya bangunan-bangunan didesain tahan gempa. Selayaknya semua bangunan, baik bangunan publik maupun bangunan rumah tinggal, bertingkat atau satu lantai semuanya didesain tahan gempa. Hal ini disebabkan karena Indonesia berada pada daerah rawan gempa

Telah disepakati secara umum bahwa secara ekonomis tidak layak untuk merencanakan bangunan agar dapat menahan gempa besar secara elastis, maka konsep perencanaan bangunan tahan gempa selayaknya adalah:
1. Pada pembebanan gempa kecil yang sering terjadi, tidak boleh terjadi kerusakan struktur dan non struktur (dapat segera dipakai, dalam keadaan serviceability limit state, immediate occupancy)
2. Pada pembebanan gempa sedang yang kadang-kadang terjadi, struktur masih dapat diperbaiki (damage control limit state, limited damage)
3. Pada pembebanan gempa besar yang jarang terjadi, struktur tidak boleh runtuh (life safety)

Untuk bangunan rumah tinggal yang bertingkat, biaya bangunan konstruksi tahan gempa dibandingkan dengan bangunan yang dikerjakan dengan ‘kebiasaan’ (non engineered building) tidak berbeda jauh. Apalagi bangunan rumah tinggal biasanya diborongkan total ke mandor dengan harga persatuan meter persegi, sehingga kualitas tidak begitu diperhatikan. Kalaupun lebih mahal, keuntungan yang didapat jauh lebih besar. Tinggal di rumah yang sudah didesain tahan gempa jauh lebih tenang dan aman dibandingkan tinggal di rumah yang dikerjakan berdasarkan ‘kebiasaan’ (baca:percaya mandor dan tukang)

Bangunan bertingkat biasanya memang didesain dengan memasukkan beban gempa. Akan tetapi akhir-akhir ini sudah mulai banyak mengabaikan kaidah-kaidah bangunan tahan gempa. Misalnya, bangunan didesain dengan tidak menjaga keteraturan system struktur. Contohnya adalah kolom yang tidak menerus ke pondasi (ketidaksinambungan vertical). Masih ada perencana yang mengijinkan membuat kolom di atas balok, tidak menerus ke konstruksi bawah.
Disamping itu, dalam pelaksanaan banyak yang mengabaikan perlunya pendetailan yang benar pada pertemuan balok dan kolom. Pemasangan sengkang dan penempatan sambungan lewatan tulangan yang salah merupakan hal yang paling sering terjadi dilapangan. Ketebalan penutup beton (deking) juga sering diabaikan.

Untuk memeriksa apakah bangunan sudah didesain tahan gempa, saat ini sudah ada cara evaluasi cepat system rangka pemikul momen tahan gempa (SRPM Tahan Gempa) seperti yang diuraikan oleh Prof. Rachmat Purwono, Guru Besar ITS, dalam makalah yang disampaikan dalam seminar dan Pameran HAKI 2007, dapat dibaca selengkapnya disini.

Dalam prakteknya di lapangan banyak ditemukan desain yang secara kasat mata tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa. Ada desainer villa mewah membuat kolom dari kayu untuk menopang konstruksi beton di atasnya. Ada desain yang dibuat tidak sentris, balok induk tidak bertemu dengan kolom. Perhitungan konstruksi ‘dipaksa’ mengikuti keinginan artistik. Ada juga insinyur sipil yang dengan enteng menjawab ‘bisa saja’ ketika ditanya orang yang awam struktur : bolehkah kolom ditingkat atas lebih besar daripada kolom dibawahnya? Dan yang paling banyak terjadi adalah ketidak sesuaian antara desain struktur dengan pelaksanaan di lapangan. Contohnya, konstruksi tangga selalu dibuat monolit (jepit-jepit) dengan struktur utama. Padahal tangga merupakan unsur skunder yang tidak diikutkan dalam analisa struktur portal.